Balap Merpati Makin Diminati Para Penghobi

Balap Merpati

Merpati JuaraBalap Merpati ini menurutnya tidak menjadi masalah, karena merpati merupakan jenis satwa domestikasi atau pengrumahan, yaitu pengadopsian hewan dari kehidupan liar ke dalam lingkungan kehidupan sehari-hari manusia. Intinya, sudah lama dijinakkan dan melimpah.

Dua orang berdiri di atas ban mobil bekas yang digunakan sebagai alas untuk mengepakkan sepasang burung merpati. Sambil menunggu kedatangan burung merpati jantan, kedua orang tersebut tampak berkomunikasi di atas ring dari ban bekas saat lomba Balap Merpati.

Dengan menggunakan ponsel dan HT (Handy Talky) kedua orang yang bertugas sebagai joki tersebut tampak berkomunikasi dengan seorang musafir atau tim yang berperan untuk melepas burung merpati jantan. Jarak pelepasan antara 500 meter hingga 1000 meter dari ring pacuan.

Di belakang joki ada tim yang memberikan dukungan, sesekali ada yang menunjuk ke depan, menandakan bahwa burung dengan nama latin Columbidae itu sudah terlihat.

Sementara suasana semakin kacau saat kedua burung merpati itu melesat ke arah joki yang sedang mengepakkan burung merpati betina tersebut.

Bagi penghobi burung merpati bukanlah hal baru, burung ini merupakan jenis burung yang sudah lama dipelihara dan dibudidayakan oleh para pecinta burung.

Pada pekan terakhir Juni 2019, masyarakat Indonesia bahkan dikejutkan dengan keberanian seorang penghobi burung merpati yang membeli merpati senilai Rp1 miliar.

Balap Merpati Banyak Penggemarnya

Burung Merpati merupakan salah satu jenis burung yang cukup pintar, memiliki daya ingat yang kuat, kemampuan navigasi, dan memiliki naluri alami yang dapat kembali ke sarang meskipun telah terbang tinggi dalam jarak yang jauh dan waktu yang lama.

Untuk itulah burung ini digemari banyak orang, baik tua maupun muda. Untuk membentuk burung merpati yang siap kerja (kompetisi) tidaklah mudah. Sebelumnya, harus melalui proses perawatan dan pelatihan yang ketat.

Balap Merpati

Dimulai dari proses perjodohan saat merpati berusia 4 bulan, kemudian mereka dilatih untuk terbang. Ada masa istirahat dimana saat merpati betina mulai bertelur, telurnya kemudian dibuang. Hingga 9 butir telur dibuang, burung merpati baru siap dilombakan.

Masa bertelur seminggu sekali. Jika telurnya tidak dikeluarkan, burung merpati diyakini tidak akan memiliki kekuatan saat memasuki perlombaan.

Pelatihan baru dapat dilakukan untuk merpati yang berusia tujuh bulan.

Selain itu karakter burung merpati juga sangat diperhitungkan, dari postur tubuh yang harus baik, sayap dan badan harus mempunyai karakter yang tangguh. Pola pengobatannya harus teratur, setiap malam diberi asupan jamu.

Pemeliharaan merpati, untuk kipas angin hanya sebagai hewan klangenan atau hobi. Meski tidak sedikit juga yang memanfaatkannya untuk bisnis. Merpati ini semakin berkembang dengan adanya kompetisi Balap Merpati.

Dengan begitu, potensi burung merpati yang menjadi perhatian saat ini adalah kelincahannya dalam terbang. Jika merpati menang semakin sering harganya semakin mahal. “Saya pernah menjual Rp. 900 ribu, baru naik atau mau kerja. Kalau saya punya bos, harganya sampai Rp. 40-50 juta, “tambah salah satu penghobi Balap Merpati.

Merpati adalah burung yang mudah dirawat. Untuk mendapatkan bibitnya sangat mudah ditemukan, karena burung merpati ini banyak dijual di pasar burung di Indonesia.

Selain itu, burung merpati merupakan salah satu hewan yang dekat dengan manusia. Namun untuk membudidayakan burung merpati diperlukan pengetahuan tentang ciri dan perilaku pejantan dan indukan agar dapat menghasilkan keturunan yang unggul.

Jenis burung dari ordo Columbiformers ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis burung lainnya yaitu burung merpati mampu terbang hingga sekitar 65-80 km / jam, dan dalam satu hari dapat terbang sejauh sekitar 965 km.

Merpati tinggi mampu terbang hingga 150 meter di atas permukaan tanah berbeda dengan merpati balap yang hanya mampu terbang hingga 5 meter di atas permukaan tanah.

Kualifikasi Lomba Balap Merpati

Ada dua kualifikasi yang dilatihkan ketangkasan terbang, yaitu Balap Merpati terbang datar (balap datar) dan Balap Merpati terbang tinggi (balap tinggi). Hasil tangkapan pacuan datar adalah kecepatan terbang mendatar dan ketepatan mendarat pada pasangan yang ada di tangan joki bagi merpati balap setelah diterbangkan dari jarak tertentu.

Adapun ketangkasan balap yang tinggi untuk merpati balap, ia turun dengan kecepatan tinggi dari udara dan masuk langsung ke dalam lingkaran terbatas, di mana para joki dengan pasangan wanitanya menunggu kedatangannya.

Untuk sistem Balap Merpati ceper, Habib Fadeli (27), penghobi yang sama menjelaskan, sistemnya dimulai dari pendaftaran peserta. Setelah itu dilakukan pengundian, kemudian dikategorikan berdasarkan daerah asal burung merpati.

Balap Merpati

Masing-masing peserta membawa maksimal 6 pasang burung merpati. Adapun peserta yang mengikuti minimal 50 orang, hingga ratusan peserta. Bergantung pada ukuran kumpulan hadiah.

Data populasi merpati di Indonesia dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menyebutkan untuk tahun 2018 populasinya mencapai 2.643.941, untuk tahun 2019 populasi merpati dengan angka sementara 2.624.054.

Kesejahteraan Merpati Untuk Balap Merpati

Swiss Winnasis Bagus Prabowo, pengamat burung dari Birdpacker, mengatakan menurutnya Balap Merpati tidak menjadi masalah, karena merpati merupakan jenis hewan peliharaan, yaitu adopsi hewan dari kehidupan liar ke dalam lingkungan kehidupan sehari-hari manusia. Intinya, sudah lama didomestikasi dan melimpah.

Domestikasi melibatkan populasi, seperti seleksi, perbaikan keturunan, dan juga perubahan tingkah laku atau sifat organisme yang menjadi objeknya.

Persis seperti ayam, kuda dan sapi. Bahkan di beberapa daerah, hewan ini juga banyak dijadikan objek perlombaan Balap Merpati.

Hanya yang perlu diperhatikan adalah soal kesejahteraan hewan. Selama ini di Indonesia kesejahteraan hewan belum dianggap atau dianggap tidak penting. Sehingga masih banyak yang mengabaikannya.

Berbicara tentang kesejahteraan hewan, kata Swiss, banyak hal yang perlu diperhatikan. Pertama tentang kesehatan hewan, kita harus memastikan bahwa hewan tersebut tidak sakit saat diganggu gugat, atau tidak ada penyakit yang mungkin bisa menular ke manusia dan sebagainya.

“Apalagi kalau lomba itu kerumunan orang. Artinya kalau ada bakteri atau virus dan sebagainya di keramaian orang itu berbahaya” kata mantan Pengawas Ekosistem Hutan (PEH) Taman Nasional Baluran Kementerian Lingkungan Hidup itu. dan Kehutanan (KLHK).

Selama ini, lanjutnya, kesehatan hewan tidak pernah diperhatikan. Sebenarnya masih banyak yang menganggap hal tersebut normal, karena tidak langsung menular atau berdampak langsung pada manusia.

Balap Merpati

Meski begitu, pria yang menginisiasi aplikasi Burungnesia ini menyarankan agar mereka yang merupakan penghobi hewan peliharaan jenis ini harus benar-benar memperhatikan kesehatan hewan.

Secara hukum, burung merpati ini tidak dilindungi. Dari segi konservasi, ini juga bukan spesies yang terancam punah. Karena secara individu dia termasuk dalam domestikasi, jumlahnya banyak.

Terlepas dari varian genetik saat ini yang sudah bervariasi, artinya itu bukan gen alami atau asli dari merpati karang.

Baca Juga : Ingin Punya Merpati Balap Sprint Tercepat ? Begini Cara Memilihnya

Itulah diatas ulasan mengenai Balap Merpati yang semakin banyak digemari oleh masyarakat. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk Anda. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *